Masing-masing pembeli dan penjual menerima tingkat harga yang terbentuk di pasar sebagai suatu datum atau fakta yang tidak dapat di ubah.


Place your order now for a similar assignment and have exceptional work written by our team of experts, At affordable rates

For This or a Similar Paper Click To Order Now

PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat pasar dalam bentuk fisik seperti pasar barang. Asal muasal terbentuknya sebuah pasar zaman dahulu, dimulai dari kebiasaan masyarakat dengan menggunakan sistem barter atau sistem tukar menukar barang atas barang yang sedang dibutuhkan. Saat ini transaksi alat jual adalah uang dengan nilai nominal untuk menetapkan harga sebuah barang. Secara sederhana pasar dapat dikelompokkan menjadi:
a. Menurut segi fisiknya, pasar dapat dibedakan menjadi beberapa macam, di antaranya: pasar tradisional, pasar raya, pasar abstrak, pasar konkrit, toko swalayan, toko serba ada, dan lain-lain.
b. Berdasarkan jenis barang yang dijual, pasar dibedakan menjadi beberapa macam di antaranya: pasar ikan, pasar sayuran, pasar buah-buahan, pasar barang elektronik, pasar, barang perhiasan, pasar bahan bangunan, bursa efek dan saham, dan lain-lain.
Secara ilmu ekonomi pasar digolongkan dalam empat bentuk/organisasi, yang disbut struktur pasar. Struktur Pasar adalah penggolongan bentuk pasar berdasarkan ciri-ciri seperti jenis produk yang dihasilkan, banyaknya perusahaan dalam industri, mudah tidaknya keluar atau masuk ke dalam industri, peranan iklan dalam kegiatan industri, dan sebagainya. Struktur pasar dibedakan menjadi 4 (empat) jenis yaitu : pasar persaingan sempurna, pasar persaingan monopolistik, pasar monopoli, dan pasar oligopoli.
2.1 Pasar Persaingan Sempurna
Pasar persingan sempurna adalah model pasar yang paling klasik dan paling sering digunakan dalam analisis ilmu ekonomi. Model ini telah dianggap sebagai teori dan secara luas digunakan untuk meramalkan keadaan ekonomi. Model ini telah mulai dibahas sejak era Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations. Edgeworth, dalam bukunya Mathematical Physics (1881), merupakan orang pertama yang mencoba menentukan definisi persaingan sempurna secara sistematis dan jelas. Kemudian konsep persaingan sempurna ini mendapatkan definisi yang lengkap dalam buku Risk, Uncertainty and Profit tulisan Frank Knight (1921).
Kadang kala struktur pasar ini dibedakan antara istilah persaingan “murni” dengan “sempurna”. “Murni” adalah kurang sempurna, ketimbang “sempurna”. Edward H. Chamberlain (1933) mendefinisikan persaingan murni sebagai “persaingan yang bersih dari elemen-elemen monopolis.” Syarat yang diperlukan untuk definisi hanyalah jumlah penjual yang banyak dan komoditas yang homogen (standardized). George Stigler (1957) mengemukakan definisi alternatif dengan menambahkan syarat yaitu asumsi informasi yang sempurna. Namun demikian, orang bisa saja memperdebatkan bahwa informasi yang sempurna tentang harga lebih mudah diperoleh dalam pasar monopoli ketimbang pasar yang terdiri dari banyak penjual.
2.2 Ciri-ciri dan Asumsi Pasar Persaingan Sempurna
Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, dimana mereka tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar. Pasar persaingan sempurna merupakan struktur pasar yang dianggap paling ideal karena struktur pasar ini menjamin terwujudnya kegiatan produksi barang atau jasa yang paling optimal atau efisien. Namaun dalam prakteknya tidak mudah untuk menentukan jenis industri yang struktur organisasinya digolongkan kepada persaingan sempurna yang murni, mungkin yang ada adalah mendekati ciri-cirinya struktur pasar persaingan sempurna.
Adapun ciri-ciri pasar persaingan sempurna adalah :
1. Banyak pembeli/perusahaan dalam pasar. Karena jumlah perusahan sangat banyak dan relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah produksi dalam industri tersebut. Menyebabkan kenaikan atau penurunan harga, sedikitpun tidak mempengaruhi harga yang berlaku dalam pasar tersebut.
2. Penjual dan pembeli tidak mampu menentukan harga. Karena demikian banyaknya perusahaan/penjual dan pembeli yang terdapat di dalam pasar, maka keduanya tidak dapat menentukan atau merubah harga pasar. Harga barang di pasar ditentukan oleh interaksi diantara keseluruhan produsen dan keseluruhan pembeli.
3. Penjual/perusahaan dapat dengan mudah masuk/keluar ke/dari pasar. Apabila ada produsen yang ingin melakukan kegiatan di suatu industri dalam struktur pasar persaingan sempurna, produsen dengan mudah melakukan kegiatan tersebut. Sebaliknya, jika penjual/perusahaan mengalami kerugian, maka ia dengan mudah meninggalkan industri tersebut.
4. Setiap produsen/perusahaan/penjualan menghasilkan/menjual barang yang sama (homogen). Barang yang dihasilkan berbagai perusahaan tidak mudah untuk dibeda-bedakan. Pembeli tidak dapat membedakan yang mana dihasilkan oleh produsen A atau B. Oleh karena itu, promosi dengan iklan tidak akan memberikan pengaruh terhadap penjualan produk.
5. Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang keadaan di pasar. Pembeli mengetahui tingkat harga yang berlaku dan perubahan-perubahan ke atas harga tersebut. Sehingga produsen tidak dapat menjual barangnya dengan harga yang lain lebih tinggi dan pada yang berlaku di pasar.
Karena dalam kenyataannya bentuk pasar ini sangat sedikit dan tidak mudah menmukan dengan bentuk yang sesuai dengan ciri-cirinya, maka dalam analisis ekonomi dibentuk asumsi-asumsi suatu struktur pasar persaingan sempurna, yaitu :
1. Terdapat sangat banyak penjual dan pembeli. Oleh karena terdapat sangat banyak produsen atau perusahaan, maka setiap produsen atau perusahaan hanya memasok produk sebagian kecil saja dari total produk yang ditawarkan di pasar.
Pembeli juga sangat banyak sehingga secara individual mereka tidak mempunyai kekuatan monopsoni untuk mempengaruhi mekanisme di dalam pasar.
2. Produk yang dihasilkan oleh para produsen adalah homogen. Pasar diartikan sebagai gabungan dari produsen yang memproduksi produk yang homogen/identik. Ini berarti bahwa antara produk dari produsen yang satu dengan produk dari produsen yang lain bersifat substitusi sempurna. Oleh karena itu, para pembeli tidak dapat membedakan produk- produk dari produsen yang berbeda.
3. Setiap produsen adalah pengambil harga (price taker). Implikasi dari kedua asumsi di atas adalah bahwa produsen secara individual tidak dapat mempengaruhi harga pasar yang berlaku dengan mengubah jumlah produk yang ditawarkan. Dengan demikian setiap produsen hanya menerima harga pasar. Produsen dapat menawarkan produk berapapun jumlahnya dengan harga pasar tersebut.
4. Perusahaan-perusahaan bebas masuk dan keluar pasar (free entry and exit of firms). Tidak ada hambatan bagi setiap perusahaan untuk masuk ke pasar atau keluar dari pasar.
5. Maksimisasi profit/ keuntungan. Tujuan dari semua perusahaan adalah memaksimumkan keuntungan. Tidak ada tujuan lain.
6. Tidak ada regulasi dari pemerintah. Tidak ada intervensi pemerintah di dalam pasar (eperti tarif, subsidi, pembatasan produksi, dan sebagainya).
Struktur pasar di mana telah dipenuhi asumsi-asumsi di atas disebut pasar persaingan murni (pure competition).Untuk pasar persaingan sempurna perfect competition) memerlukan asumsi-asumsi tambahan, yaitu :
7. Mobilitas faktor-faktor produksi sempurna. Faktor-faktor produksi bebas berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain melalui mekanisme ekonomi. Dengan kata lain, terjadi persaingan sempurna di dalam pasar input.
8. Pengetahuan sempurna (perfect knowledge). Semua penjual dan pembeli diasumsikan mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang kondisi pasar, baik
kondisi sekarang maupun yang akan datang. Dengan demikian kondisi ketidakpastian di masa mendatang dapat diantisipasi. Informasi pasar dapat diperoleh dengan mudah didapat dan tanpa biaya.
Dengan demikian dalam pasar persaingan sempurna jumlah perusahaan sangat banyak dan kemampuan setiap perusahaan dianggap sedemikian kecilnya, sehinga tidak mampu mempengaruhi pasar. Pada pasar ini kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran dapat bergerak secara leluasa. Harga yang terbentuk benar- benar mencerminkan keinginan produsen dan konsumen. Masing-masing pembeli dan penjual menerima tingkat harga yang terbentuk di pasar sebagai suatu datum atau fakta yang tidak dapat di ubah.
Bagi pembeli, barang atau jasa yang ia beli merupakan bagian kecil dari keseluruhan jumlah pembelian masyarakat, demikian juga bagi penjual. Bila penjual menurunkan harga,maka ia akan rugi sendiri, sedangkan bila menaika n harga., pembeli akan lari penjual lainnya. Bentuk pasar persaingan sempurna, banyak terdapat terutama dalam bidang produksi dan perdagangan hasil-hasil pertanian seperti beras, terigu, kopra, dan minyak kelapa, yang biasanya dijual dalam suatu pasar yang sejenis/homogen, seperti di pasar induk.
Berdasarkan asumsi-asumsi di atas maka dapat dilakukan analsis ekuilibrium atau keseimbangan produsen/perusahaan di dalam jangka pendek dan jangka panjang. Ekuilibrium produsen dicapai pada saat perusahaannya mencapai keuntungan maksimum. Ekuilibrium pasar atau industri dicapai apabila (a) semua perusahaan dalam posisi ekuilibrium, dan (b) jumlah produk semua perusahaan tersebut sama dengan jumlah permintaan semua konsumen.
2.3 Biaya Produksi, Permintaan dan Penawaran dalam Pasar Persaingan Sempurna
Dalam menganalisis usaha perusahaan untuk memaksimumkan keuntungan, terdapat dua hal harus diperhatikan, yaitu biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan (total cost), dan hasil penjualan dari barang yang dihasilkan perusahaan itu (total revenue). Sifat biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam struktur pasar manapun ia digolongkan, baik dalam pasar persaingan sempurna, monopoli, oligopoli, atau persaingan monopolistis, adalah sama.
Sedangkan sifat permintaan dan dan hasil penjualan akan berbeda-beda pada pasar persaingan sempurna dengan struktur pasar lainnya. Perbedaan ini disebabkan karena ditinjau bentuk permintaan yang dihadapi adalah berbeda-beda. Seorang produsen akan menghadapi kurva permintaan yang berbeda di pasar persaingan sempurna dibandingkan yang dihadapi oleh produsen di pasar lainnya.
1. Biaya Produksi pada Pasar Persaingan Sempurna

Pengertian biaya produksi
Biaya produksi adalah seluruh biaya yang harus dikeluarkan sebuah bisnis atau perusahaan, dalam menghasilkan produk dan jasa.
Pengertian biaya pokok produksi adalah harga pokok yang dikeluarkan, untuk memproduksi per unit produk. Biaya produksi juga diartikan sebagai biaya yang mencakup semua hal yang dikeluarkan dari awal sampai akhir barang siap dijual ke konsumen.
Sederhananya, arti biaya produksi adalah biaya yang timbul dari suatu proses produksi perusahaan dalam membuat barang atau jasa yang akan dijual. Pengertian biaya sendiri adalah seluruh pengorbanan yang dikeluarkan, untuk berjalannya kegiatan usaha dan dapat diukur dengan satuan uang.
Jenis-jenis biaya produksi maupun komponen dalam biaya produksi adalah sebagai berikut:
1. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan dalam besaran yang tetap atau stabil. Biaya tetap ini, keberadaannya tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan jumlah atau aktivitas produksi pada tingkat tertentu.
2. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel adalah biaya yang besarannya berubah-ubah, tergantung pada volume kegiatan. Jadi, jika volume produk mengalami peningkatan, maka biaya variabel akan ikut naik dan begitupun sebaliknya. Unsur biaya variabel terbagi menjadi 3 yaitu, biaya bahan baku (direct materials), tenaga kerja langsung (direct labour) dan biaya overhead.
3. Biaya Total (Total Cost)
Biaya total adalah keseluruhan biaya yang digunakan untuk memproduksi sebuah output. Biaya total bersifat menyeluruh mencakup biaya tetap, maupun biaya variabel.
4. Biaya Rata-Rata (Average Cost)
Biaya rata-rata adalah jumlah biaya produksi per unit yang dihasilkan. Besar biaya rata-rata dihitung dengan cara membagikan keseluruhan total biaya dengan jumlah produk yang dihasilkan.
5. Biaya Marjinal (Marginal Cost)
Biaya marjinal adalah biaya tambahan untuk menghasilkan satu barang. Biaya ini akan diperlukan ketika dilakukan perluasan produksi untuk menambah jumlah barang yang dihasilkan.
Unsur Biaya Produksi
Adapun unsur biaya produksi 3, yakni bahan baku, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.
1. Biaya Bahan Baku (Direct Materials)
Bahan baku langsung adalah bahan yang akan menjadi bagian dari barang hasil produksi. Jadi, biaya bahan baku adalah harga pokok bahan tersebut yang diolah dalam proses produksi. Menghitung biaya bahan baku berarti total keseluruhan biaya, yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan baku tersebut.
2. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labour)
Biaya tenaga kerja langsung adalah semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan, kepada semua karyawan.Biaya ini akan diberikan sesuai dengan fungsi dimana karyawan ditempatkan (bekerja) pada perusahaan. Contohnya, bagian produksi, pemasaran, bagian administrasi, dan bagian umum.
3. Biaya Overhead
Pengertian Biaya overhead pabrik adalah biaya pabrik selain daripada bahan baku dan tenaga kerja langsung. Contoh Biaya overhead pabrik adalah bahan pembantu, sering juga disebut dengan bahan tidak langsung (indirect materials). Contohnya: perlengkapan pabrik seperti baut, mur dan pelitur dalam perusahaan mebel.
Cara Menghitung Biaya Produksi
Cara menghitung biaya produksi adalah dengan rumus berikut:
Bahan baku yang digunakan + Biaya tenaga kerja langsung + Biaya overhead produksi
2 Permintaan dan Penawaran pada Pasar Persaingan Sempurna
Tingkat harga dalam pasar persaingan sempurna ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Jumlah output perusahaan relatif sangat kecil dibanding output pasar, maka berapa pun yang dijual perusahaan, harga relatif tidak berubah. Permintaan total (total revenue) perusahaan sama dengan jumlah output dikali harga jual. Karena ketidakmampuan penjual dan pembeli dalam mempengaruhi harga (price takers), maka harga secara otomatis telah ditentukan (given) oleh pasar. Dengan demikian penerimaan rata–rata (average avenue) dan penerimaan marjinal (marginal revenue) adalah sama dengan harga.
3.Pemaksimuman Keuntungan pada Pasar Persaingan Sempurna
Perusahaan akan bekerja dalam situasi jangka pendek dan jangka panjang, dimana keduanya memiliki model pemaksimuman keuntungan (max profit) yang berbeda-beda. Analisis jangka pendek (shrot run), adalah dianggap setiap produsen tidak bisa menambah kapasitas pabriknya dan tidak mungkin bagi produsen-produsen baru masuk ke dalam pasar. Sedangkan analisis jangka panjang (long run) adalah di mana dimungkinkan adanya baik perluasan kapasitas pabrik oleh perusahaan-perusahaan yang telah ada maupun pembangunan pabrik-pabrik baru oleh pengusaha-pengusaha baru yang masuk ke pasar.

For This or a Similar Paper Click To Order Now


Leave a Reply